Leukemia


“Kau ingat tugasmu Blood? Antarkan tepat waktu.”

Hai, namaku Blood, dan yang baru saja bicara adalah Reed, ia pemimpin kami, suku Eritrosit. Kami hidup di Sel Darah Land dan berasal dari kawasan Sumsum Tulang Merah. Di Sel Darah Land ini 55 % penghuninya merupakan bagian cair yakni suku Plasma Darah dan 45 % sisanya merupakan bagian padat atau butiran darah yakni suku Eritrosit, Leukosit dan Trombosit . Kami semua hidup bersama saling mendukung satu sama lain.

Kau tahu, kupikir bentuk suku Eritrosit itu paling menarik dibanding suku Leukosit maupun Trombosit. Kami memiliki warna merah tua pekat disekujur tubuh kami, dengan bentuk pipih bergaris tengah 7,5 µm dan bikonkaf, sehingga kami terlihat paling menonjol di Sel Darah Land. Sedang suku Leukosit, mereka tidak berwarna, bersifat bening, bentuknya tidak tetap seperti amoeba. Hanya saja ukuran mereka lebih besar dari suku kami yaitu 9-15 µm. Suku Trombosit … mereka lebih parah lagi, bentuknya tidak teratur, tidak berinti, dan berukuran kecil, garis tengahnya hanya 2-4 µm, mereka mudah sekali pecah bila ada luka. Tentu saja, tugas suku Trombosit-kan membekukan darah.

Selain terindah, jumlah suku kami juga yang terbesar se-Sel Darah Land yaitu ± 5 juta sel dalam 1 mm3, disusul suku Trombosit yaitu ± 250.000 keping darah dalam 1 mm3, dan yang terakhir suku Leukosit yaitu hanya ± 8.000 sel dalam 1 mm3.

“Hai, Blood. Masih menjadi tukang angkat barang rupanya –. Semoga berhasil,” sebuah suara terdengar dari sosok putih. Sosok putih tersebut berlalu setelah menyunggingkan senyum mengejek padaku.

Itu tadi White, ia seorang Leukosit. Dari dulu ia selalu meremehkan tugasku mengantarkan Oksigen. Ia merasa tugasnya di bagian keamanan lebih penting dari tugasku. Lho, bukan salahku-kan bila dalam tubuhku terkandung Hemoglobin yang dapat mengikat Oksigen sehingga aku dan sukuku memiliki kemampuan mengangkut dan menyalurkan Oksigen? Lagipula aku senang menjalankan tugas ini.

“Maaf, minggir-minggir. Harap semuanya tenang dan bergerak perlahan.”

Wow, ada apa ini? Padahal jarang sekali Arteri Street macet. Jalan ini tebal dan elastis, sungguh sangat enak dilewati dan membantu jantung mengantar kami ke tempat tujuan masing-masing.

“Perhatian ditujukan kepada seluruh pengguna Arteri Street agar menepi dan jangan panik. Telah terjadi kerusakan dan sedang ditangani oleh suku Trombosit.”

Keren! Para suku trombosit memecahkan diri dan mengeluarkan trombokinase, dengan bersenjatakan ion Ca+ dan vitamin K mereka membentuk Protrombin yang menjadi trombin dan melakukan perbaikan dengan menggunakan fibrinogen yang membentuk jala-jala fibrin.

“Bloody! Apa yang kau lihat? Bukankah tugasmu belum selesai?.”

Pak tua Harad mengejutkanku, dengan berat hati kutinggalkan pemandangan yang tidak terjadi setiap hari itu dan melanjutkan perjalananku.

Akhirnya aku sampai ke Hati, ini pemberhentian pertamaku. Tapi perjalananku masih panjang. Aku ditugasi mengantar darah ke ginjal, tempat yang jauh memang namun masih ada yang lebih jauh yaitu ke alat gerak bawah. Para petugas telah selesai mengatur teman-temanku yang mengirim Oksigen ke Hati, kini aku dapat melanjutkan perjalananku.

Aku sudah berada di pemberhentian ke dua, Usus. Sebenarnya bila dihitung-hitung, mengantar darah ke usus dan ke ginjal hampir sama jauhnya. Karena bila selesai mengantar Oksigen ke usus, kami tidak bisa langsung kembali ke jantung. Tetapi harus menuju ke Hati terlebih dahulu, karena dikhawatirkan ada yang membawa zat-zat beracun dan berbahaya yang harus dibersihkan di Hati.

Perlahan tapi pasti aku sampai di ginjal. Setelah kuantar oksigen ke ginjal bukan berarti aku sudah tidak mengangkut apa-apa lagi, tapi aku harus mengangkut karbon dioksida kembali ke jantung. Aku kemudian bergabung dengan kawan-kawanku di Vena Street. Kami tidak melalui Arteri Street lagi karena ada peraturan yang melarang Eritrosit pengangkut oksigen berbaur dengan Eritrosit pengangkut karbon dioksida. Sebenarnya aku tidak suka lewat Vena Street karena jalannya tipis dan kurang elastis.

“Aku pulang!.”

Hore !! aku berhasil menyelesaikan tugasku. Perjalananku ini kusebut Peredaran darah besar, wow. Kenapa? Karena aku capek mengantarkan Oksigen dari Jantung (tepatnya bilik kiri) ke seluruh tubuh manusia lalu kembali lagi ke jantung (tepatnya serambi kanan). Setelah perjalanan ini aku akan melakukan perjalanan kecil yang kusebut dengan…ngg… Peredaran darah kecil. Kenapa? Karena aku hanya harus berangkat dari Jantung (tepatnya bilik kanan) menuju Paru-paru lalu kembali lagi ke Jantung (tepatnya serambi kiri).

Aku melongok ke Serambi Kanan. Reed terlihat telah menungguku di dalam sana.

“Bagaimana Blood, ada masalah?.”

“Tenang Reed, semuanya beres, aku tidak melakukan kesalahan kok.”

“Bagus, sekarang pergilah ke Paru-paru, cuci tubuhmu dan penuhi dengan Oksigen. “

“Lagi…? Oh, ayolah Reed tidak bisakah aku beristirahat…?.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s