Rumah Menangis


Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, waktu dimana seharusnya anak-anak kecil seusia Radya sudah terlelap terbuai mimpi, namun Radya dengan mendekap beruang coklat dekilnya masih duduk di tepi pembaringannya memandang rumah yang dindingnya miring, rumah tanpa penerangan sedikitpun, bila ada cahaya yang memperlihatkan catnya yang mengelupas itu adalah cahaya yang datang dari kamar Radya dan lampu di belakang rumah mewahnya. Kerinduan terpancar dari mata bulat kecil Radya, sesaat kemudian mata itu menjadi basah.

“Adya belum tidur…?” tanya seorang gadis yang menginjak usia remaja yang mukanya sangat mirip dengan Radya.

“Belum…” jawab Radya tanpa memandang wajah kakaknya.

“Kenapa?” si gadis duduk di tepi pembaringan Radya yang lain.

“Kak kita tidur di sana yuuk…” rengek Radya.

“Hah?!” sontak gadis itu terkejut mendengar permintaan sederhana adiknya. “Kenapa Adya ingin tidur di sana…?”

“Stt…dengar…rumah itu menangis…”

“Wuuzz…wuzzz…” angin berhembus dan rumah bobrok itu mengeluarkan bunyi berderit.

“Hmmph…” Kakak Radya menahan tawa.

“Kenapa?” Radya marah, merasa dilecehkan kakaknya. “Dengar, kan? Krik krik krik. Rumah itu kedinginan, kesepian, jadi ia menangis…”

“Itu hanya suara angin…” gadis itu mencoba menjelaskan. “Lagipula…apa Radya mau tidur tanpa kasur, mana gelap dan kotor pula…?”

Diam. Tidak ada jawaban dari mulut kecil Radya. Otaknya sibuk berpikir antara rasa kasihan dan gengsi melawan rasa takut tidur bergelap-gelapan.

“Nah, sekarang Adya tidur di sini saja… agar besok tidak terlambat ke sekolah, ya?”

Malam semakin larut, Radya sudah tidak terpaku di samping jendelanya lagi, tidur dengan lelapnya, tidak merasa Ayahnya masuk ke kamarnya untuk mematikan lampu.

***

Saat itu sore di musim hujan yang berangin dan Radya bersama sahabatnya, Ruwi, berada di masjid untuk mengaji, meskipun pada kenyataannya ia hanya bermain-main saja. Mendadak langit menjadi gelap, kaca-kaca masjid menjadi basah, ketika rakaat pertama hujan menjadi deras, ruku pertama listrik padam, bacaan shalat selanjutnya menjadi keras. Dzikir setelah shalat menjadi lebih keras dan lebih khusyuk dari biasanya.

Radya mengkeret di pojokan bersama Ruwi, perlahan satu-satu temannya dijemput orang tua mereka masing-masing. Entah kenapa Radya merasa nyaman dan aman berada di masjid sekaligus merasa ingin pulang, ingin bertemu dan berada dalam pelukan ibunya. Lalu tiba-tiba seorang kakak mengajinya datang mencari Ruwi, menyampaikan kabar bahwa Ayah Ruwi menjemput Ruwi pulang.

Radya tidak suka sendirian di masjid (well, di masjid banyak orang tapi sedikit yang seusia dengannya), ia menatap iri ke arah Ruwi yang dengan senangnya menuju pintu keluar masjid, menuju ayahnya, meninggalkan Radya. Radya ingin menangis. Seseorang menyentuh pundaknya.

“Ruwi!” pekiknya gembira.

“Ayahku bilang ia akan mengantarkanmu pulang…”

Kaki-kaki 2 bocah itu berjalan di genangan air yang sudah mencapai lutut mereka dan meskipun menggunakan payung Radya dan Ruwi tetap menjadi basah. Tentu saja, Ayah Ruwi tubuhnya tinggi kurus jadi payung yang mereka gunakan juga terlalu tinggi untuk melindungi dari air hujan apalagi ditambah angin yang bertiup kencang.

Baju Radya tinggal setengahnya yang kering ketika Ruwi tiba di rumahnya dan itu berarti sebentar lagi ia sampai di rumahnya sendiri. Rumah Ruwi berada di belakang rumah Radya, dipisahkan kebun Radya yang luas.

“Terima kasih, Kang, sudah mengantarkan Radya pulang…” ucap Ibu Radya ketika Ayah Ruwi mengantarkan gadis bungsunya. “Mampir dulu mungkin? Nanti saya buatkan kopi…” tawarnya kemudian.

“Tidak, terima kasih, Bu. Saya pulang saja, mari…assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

Ayah Ruwi yang tinggi kurus menghilang di balik pohon-pohon salak pondoh milik orang tua Radya.

“Wahh!!! Dingin! Dingin!” teriak Radya heboh, kaki kecilnya melompat-lompat. “Ibu tahu tidak? Anginnya kencaaang sekali.” Ibu Radya melepas baju basah putrinya. “Dan…dan sepanjang jalan dari masjid ke sini banjir, banjir loh…sendal Adya serasa mau hanyut saja…”

“Benarkah?” Ibu Radya melepas pakaian dalam putrinya.

“Iya, dan lampu di masjid mati, dan…dan…bla bla bla…” Radya terus mengoceh.

“Saat seperti ini paling aman ya berada di masjid…kok malah dijemput pulang…” gumam Ayah Radya.

Angin bertiup semakin kencang dan hujan turun semakin lebat, namun Radya sudah kering sekarang, duduk bersama keluarganya di teras belakang, memandangi pohon-pohon yang terlihat seperti mau roboh, mendengar atap-atap seng berisik digoda angin. Radya memandangi rumah kecil di belakng rumahnya, keadaannya kini semakin menyedihkan, atapnya ada yang sudah diterbangkan angin, dindingnya menjadi semakin miring. Ia teringat dulu tidur didalamnya, bermain di dalamnya, menangis di dalamnya, ia cinta rumah kecil itu, rumah lamanya. Meski rumah itu semi permanent, dan dinding kayu bagian dalamnya sudah dicopoti untuk dijual. Meski ia kini tinggal di rumah mewah yang luas. Ia tetap cinta rumah kecil itu, tetap ingin tinggal di sana.

“Alhamdulillah ya, Pak… Kita sudah pindah ke sini” ucap Ibu Radya lembut ketika melihat satu lagi atap seng rumah lamanya di terbangkan angin, Ayah Radya membalas dengan anggukan.

“Apa rumahnya masih menangis, Dya?” tanya Kakak Radya sambil tersenyum, ia duduk di samping Radya yang melipat kakinya.

“Sekarang rumah itu sesenggukan, Kak…”

“Radya…rumah adalah benda mati dan benda mati tidak punya perasaan, jadi tidak bisa nangis…” Kakak Radya mencoba menerangkan dengan otak kelas satu SMPnya.

“Punya kok!” seru Radya. “Adya dengar sendiri, krik krik krik…begitu, Kak!” Radya ngotot, antara mencoba memahami penjelasan kakaknya dan keegoisannya mengakui kesalahan. Peduli apa dengan benda mati? Yang penting ia cinta rumah kecil itu, ia merasa sedih rumah itu kini tidak ada yang menempati, kini menjadi gelap, kini dipermainkan angin. Dan Ayah, Ibu, serta Kakaknya hanya melihat.

“Bruukkk!!!” rumah kecil yang miring itu ambruk, tidak kuat menahan hempasan angin. Yang tertinggal hanya bagian dinding yang terbuat dari batu bata, sedangkan yang terbuat dari kayu roboh total.

“Ahhhh….!!!” Teriak Radya.

“Astaghfirullah…” Ibu, Ayah, dan Kakak Radya beristighfar.

Kayu-kayu dinding rumah kecil itu menimpa barang-barang yang terlindungi atapnya, kardus-kardus berisi buku, baju-baju usang, semuanya. Wajah Radya pias.

“Kak, kata teman-teman Adya angin ini adalah tunggangan Nyai Roro Kidul…”

“Benarkah?”

“Ya.” Jawab Radya mantap. “Tuh…tuh…rambut-rambut di tangan Adya berdiri.” Radya seketika merasa takut. Hujan deras tanpa petir itu sudah lama berhenti, namun angin kencang masih terus berhembus.

“Kita masuk saja yuk” ajak Kakak Radya pada adiknya, otak SMPnya masih terlalu mudah dipengaruhi tahayul. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya ke adik yang berbeda enam tahun darinya. Radya langsung menggenggam tangan itu dan menggoyang-goyangkannya sambil berjalan masuk kedalam rumah mewah kokohnya.

***

Siang itu cerah dan angin masih berhembus, kadang kencang kadang sepoi-sepoi. Radya yang pulang dari TK nol-besarnya setelah paginya berangkat sekolah terburu-buru karena telat bangun, dikejutkan oleh keadaan di belakang rumahnya. Rumah kecil yang dicintainya sudah rata dengan tanah (tidak benar-benar rata sih…soalnya pondasi rumah itu tinggi) tinggal lantainya saja.

“Ayah!!! Kok rumahnya dibongkar?!” protesnya ketika ia dapati Ayahnya berdiri menggendong tangan memperhatikan tukang-tukang mengangkut kayu-kayu bekas dinding rumahnya.

“Kan rumahnya memang sudah roboh, Dya.” Ujarnya sambil mengangkat tubuh gemuk Radya lalu mencium pipi tembem tanpa lesung itu.

“Tapi Radya ingin main di rumah itu!” protes Radya lagi, tangannya menjauhkan wajah Ayahnya dari pipinya.

“Nanti Ayah akan pasangkan ring basket, Adya mau tidak…bermain basket?” bujuk Ayah Radya.

“Basket?” bibir Radya membentuk kerucut. “Apa itu?”

“Permainan memasukkan bola ke dalam keranjang yang tinggi…”

“Radya lebih suka badminton…”

“Baiklah, kita buat lapangan badminton kalau begitu…”

“Asyik! Asyik!” seru Radya sambil meronta dari gendongan Ayahnya. “Kak! Kakak!” kaki kecil Radya berlari mencari Kakaknya.

“Apa, sayang…”

“Kita akan punya lapangan badminton…” Radya menarik-narik tangan kakaknya menuju Ayah mereka. “Benar kan, Yah?” senyum mengembang di wajah bulat Radya.

“Ya…”

“Hore! Hore! Hore!” teriak mereka berdua.

Matahari mulai menuruni lembah ketika Radya dan Kakaknya memperhatikan tempat dimana rumah mereka dulu berdiri. Angin masih tetap berhembus, kadang kencang kadang sepoi-sepoi mempermainkan anak rambut kakak beradik tersebut.

“Adya tahu tidak?”

“Apa?” Radya memandang wajah Kakaknya.

“Malam itu, ketika Adya duduk di samping jendela…rumah itu sebenarnya tidak menangis…”

“Hah?” Radya tidak mengerti ucapan Kakaknya.

“Ya.” Kakak Radya tersenyum. “Rumah itu sedang berdansa… swing  swing swing… begitu, jendelanya bergerak-gerak, berdansa…” Kakak Radya masih tersenyum.

“Hah?”

 

 

Semarang, 11 Mei 2008

Talintin K

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s