Tubuh & Otak Farly


Saat itu sore di musim hujan yang berangin dan seorang pemuda kerempeng berjalan tersaruk-saruk dihalaman masjid yang berkerikil, mulutnya menceracau tidak jelas, kaus oblongnya basah oleh air liurnya sendiri.

“Hey, awas ada Farly,” bisik gadis kecil berjilbab biru pada teman-temannya ketika si pemuda kerempeng melewati mereka. “Kita ikutin, yuk….” Mereka bertujuh mengekor berjingkat-jingkat di belakang Farly –si pemuda kerempeng– sambil  cekikikan dan saling sikut. Sampai di tiang penyangga masjid terdepan Farly berhenti, berbalik badan kemudian terkekeh-kekeh.

“Hiii… Farly ngompol!” teriak mereka serentak ketika tiba-tiba lantai masjid menjadi basah. “Ustadz Amaar! Farly ngompol!”

Demi mendengar teriakan bocah-bocah itu seorang pemuda tegap berkoko putih bergegas menuju masjid, meninggalkan bola sepak yang sedang dipompanya. Keluhan anak-anak laki-laki mengantar di belakangnya, salah satu dari mereka lalu mencoba memompa bola yang sudah setengah terisi itu.

“Ustadz! Ustadz Amaar… lihat Farly ngompol!” ramai gadis-gadis kecil itu berebut bicara ketika pemuda tegap berkoko putih itu berjalan mendekat, Farly hanya tersenyum polos membalas pandangan Amaar.

“Farly kan udah gede, masa masih ngompol sih…?” tanya gadis kecil berkerudung biru sambil memegang ujung koko putih Amaar. “Adya aja yang masih kecil udah ga ngompol…”

“Benarkah?” Amaar bertanya sambil memandangnya lembut, gadis kecil berjilbab biru itu mengangguk. “Radya pintar, ya…” puji Amaar seraya mengelus kepala Radya yang langsung tersenyum cerah.

Celotehan anak-anak lain menghujani Amaar dan ia menanggapinya dengan sabar, tapi matanya tidak. Matanya tidak melihat binar mata-mata kecil di hadapannya, matanya sibuk memandang pemuda kerempeng seusianya yang asyik mempermainkan air kencingnya sendiri dengan kakinya.

Tubuh itu benci, tubuh Farly benci pada Amaar. Benci melihat tatapan iba Amaar padanya. Benci mengetahui meski ia dan Amaar seusia tapi keadaan mereka amat berbeda. Coba lihat, Amaar begitu tegap, ia begitu kerempeng. Wajah Amaar begitu bersih, begitu teduh, sedang wajahnya? Wajahnya dipenuhi leleran liur yang tidak henti-hentinya menetes melalui dagunya. Tubuh Amaar begitu wangi, sedangkan ia begitu bau, bau pesing, bau orang jarang tersiram air, bau rambut tak pernah keramas.

Seorang wanita kurus di usianya yang setengah baya datang tergopoh-gopoh menghampiri Farly, berusaha menjauhkannya dari air kencingnya sendiri. “Maaf ya Nak Amaar, Farly nakal…”

Nakal? Mengencingi rumah Allah, Ibu bilang nakal? Andai tubuh Farly bisa menggerakkan bibirnya tanpa perintah dari otak, kata-kata itu pasti sudah terlontar keras dari mulutnya. Tapi otak memerintahnya untuk mengibaskan tangan wanita kurus itu. Memerintahnya untuk tetap menghentak-hentakkan kakinya di kubangan kencingnya sendiri bahkan makin keras, membuat air najis itu bercipratan kemana-mana.

“Tidak apa-apa, Bu Yati… bisa dibersihkan” jawab pemuda itu, dan hey! Bibirnya tersenyum. Tubuh Farly makin benci padanya. Ahh… ‘benci’? mungkin ‘iri’ lebih tepat. Iri karena Amaar dapat menunaikan sholat dengan sempurna. Tubuh Farly juga ingin sholat dengan sempurna, ingin ruku, ingin sujud, tapi ia tidak bisa. Semua ini karena otak Farly –otak yang menjadi satu kesatuan denganku– begitu  bebal, saking bebalnya hingga untuk mengenal Tuhannya sendiri pun ia tak mampu, keluh tubuh Farly.

Wanita kurus itu kembali menarik tangan Farly, kali ini Farly tidak melawan, bahkan ia menggelayut manja saat dibimbing ke luar masjid oleh Ibunya. Mungkin otaknya sudah bosan dengan mainannya yang mulai mengering. Tubuh Farly merasakan genggaman wanita kurus itu, lembut, hangat, nyaman. Ingin ia balas genggaman itu, mengisyaratkan bahwa ia sangat mencintainya. Namun otak Farly memerintahkan lain, tangan wanita kurus itu dikibaskan, lalu kakinya berlari tertatih-tatih menuju halaman. Farly mengganggu anak-anak yang sedang bermain sepak bola dengan celana yang masih basah. Ia berteriak-teriak senang.

***

Tubuh Farly menggelosor di teras masjid, kakinya pegal setelah diajak jalan-jalan telanjang mengitari desa oleh otaknya sejak subuh. Andai ba’da dzuhur tadi, Ayah Farly tidak menemukannya sedang mengaduk-aduk kolam ikan Pak Slamet, pasti sekarang Farly menggelosor masih dalam keadaan telanjang dan badan dilumuri lumpur. Tubuh Farly ingin berontak ketika otak Farly memerintahkannya untuk berdiri. Oh ayolah…, kau tidak lelah apa?! sungut tubuh Farly pada otak. Hh… tentu saja, karena aku yang sejak tadi berjalan, aku yang sejak tadi menahan angin yang dinginnya membekukan tulangku, aku bukan kau….

Mata Farly memperhatikan Amaar yang sedang berwudlu, menunjukkan ketertarikannya yang begitu besar. Hey! Hey! Biarkan aku istirahat dulu meski sekejap! tubuh Farly mencoba untuk tetap duduk, tapi stimulus yang diberikan otak terlalu kuat untuk syaraf-sayarafnya. Baiklah! Baiklah! Aku turuti perin tahmu….

Farly berjalan mendekati tempat wudlu, kakinya yang bengkok satu ia seret-seret, bibir bawahnya ia gigit, mengurangi jumlah liur yang turun ke dagunya. Oh tidak, jangan… jangan orang itu, pinta tubuh Farly ketika Farly mengikuti Amaar masuk ke dalam masjid. Lebih baik kau mencari anak-anak yang bermain sepak bola, mereka lebih mengasyikkan untuk diganggu daripada Amaar.

Lantunan adzan mengalun merdu dari speaker yang dipasang di atas pohon kelapa depan masjid Nurul Huda, menggoyang biji-biji padi yang merunduk berat siap panen, menghentikan para petani yang menyiangi sawahnya dari gulma, yang memperbaiki pematang yang rusak karena air irigasi mengalir sangat deras sisa hujan tadi malam, atau yang sedang nikmat menyantap hidangan makan siangnya.

“Apakah kau ingin sholat…?” tanya Amaar hati-hati pada Farly yang memperhatikannya sholat dari awal sampai ia selesai berdoa.

Ya, katakan iya… katakan kau ingin sholat, Far!, tubuh Farly girang. Kini akhirnya setelah sekian lama, ia dan otak Farly mempunyai keinginan yang sama.

Farly diam, ia hanya nyengir sambil menggigit bibir bawahnya. Ia serta merta berdiri, membuat Amaar terperanjat. Lalu ia mengangkat dua tangannya, bibir bawah yang digigitnya lepas ketika karena ia tertawa. Matanya lekat menatap Amaar. Kemudian ia membungkukkan badannya, lagi-lagi ia terkekeh-kekeh sambil terus menatap Amaar. Namun ketika ingin bersujud, Farly meringis, kaki bengkoknya terasa sakit. Amaar langsung berlutut di sampingnya, membantu memegangi kaki bengkok Farly agar tidak tertindih tubuh kerempengnya.

Selesai sujud, Farly menatap Amaar, terkekeh-kekeh padanya lalu berdiri dan berjalan tersaruk-saruk meninggalkan masjid. Bibirnya menceracau cepat, membuat air liurnya muncrat kemana-mana. Farly pulang, meninggalkan Amaar yang terdiam dengan mata terasa panas.

Sementara itu terdengar teriakan dan tangis seorang wanita dari sebuah rumah yang paling bagus di antara rumah-rumah di sekitar masjid Nurul Huda. Teriakan dan tangis yang berasal dari wanita kurus yang dipukuli dengan bilah kecil oleh seorang pria yang mulutnya bau alkohol.

“Beri aku uang!” teriak si laki-laki.

“Tidak akan!” si wanita kurus balas berteriak. “Jika nantinya hanya digunakan untuk judi dan mabok-mabokan, jangan harap aku mau memberimu uang!”

“Taar!!!” bilah itu mengenai lengan si wanita kurus.“Aku berjudi demi kalian! Demi kau dan Farly!”

“Uangku lebih dari cukup untuk menghidupi Farly…”

“Tapi tidak untuk membawanya berobat, untuk menyembuhkannya!”

“Aku tidak rela anakku disembuhkan menggunakan uang haram!”

Mereka berdua terus bertengkar tanpa menyadari kehadiran Farly, ia tertegun melihat pemandangan di depannya. Otaknya bekerja keras mencerna apa yang mata kirimkan padanya. Mereka melakukan permainan apa? Kenapa aku tidak diajak…? Sepertinya menyenangkan…. Farly diam setelah masuk beberapa langkah mendekati orang tuanya.

Oh tidak…kenapa kau diam saja melihat Ibu dipukuli? keluh tubuh Farly yang merasa persendiannya dilepas satu-satu. Ibuuu…!!! ingin sekali tubuh Farly teriak melihat tubuh kurus wanita itu mendapat hantaman bilah kecil sekali lagi. Bila sanggup, ia berlari memeluk Ibunya itu agar bilah yang dihantamkan Ayahnya mengenai tubuhnya bukan tubuh ringkih Ibunya.

I heard that usually after a war there would be peace in exchange. Why do I see my dad hitting my mom? I really can’t bear to watch it, thinking I am not a man enough. If I really had one pair of wings, two pairs of wings. Can leave anytime, leave secretly, I will definitely run away with my Mom.*

Farly yang melenguh-lenguh bosan dengan ‘permainan’ di hadapannya, mulai mendekat, ia ingin menunjukkan ‘permainan’ yang ia dapat dari Amaar pada Ibunya. Farly menceracau tidak jelas, tangannya menarik-narik tangan pria berbau alkohol yang serta merta mengibaskannya. Farly jatuh terduduk.

“Beri aku uang, Yati!” teriak pria itu mulai tidak sabar.

“Tidak…” jawab Ibu Farly disela-sela isaknya.

“Beri aku uang atau aku memukulmu lagi?!” tangan pria berbau alkohol terangkat tinggi siap memukulkan bilah kecil di genggamannya ke tubuh ringkih di depannya.

“Tidak Mas, jangan pukul aku… jangan pukul aku di hadapan Farly, jangan pukul aku di depan mata anak kita…” si wanita kurus memeluk kaki Ayah Farly.

“Baik, aku tidak akan memukulmu di depan Farly…” pria berbau alkohol itu melempar bilah kecil di tangannya, kini ia menggenggam lengan kurus pemuda kerempeng yang masih belum bisa bangun dari jatuhnya.

Farly melenguh-lenguh marah dan kesakitan saat lengan kurusnya ditarik Ayahnya keras. Pria kerempeng itu menceracau tidak jelas, tangannya melayang-layang mencoba memukul orang yang menyeretnya. Kaki bengkoknya terantuk meja dan kursi, sebelum akhirnya terpelanting ke tanah.  Farly mencoba berdiri secepat yang ia bisa, mencoba membuka pintu rumahnya yang sayangnya tidak terbuka sesenti pun. Ia menggedor-gedor pintu itu, melenguh-lenguh keras, lalu mulai menceracau merajuk meminta dibukakan pintu. Tapi pintu itu tetap tertutup rapat membuat Farly bosan dan mengalihkan perhatiannya pada segerombolan orang yang membawa pancing, ia tertarik dan memutuskan untuk mengikuti mereka.

“Fer, pulang sana…” hardik salah satu bapak yang memakai topi ayaman bambu. “Nanti dicari Ayahmu… pulang sana!” Farly hanya terkekeh-kekeh lalu menggigit bibir bawahnya. Para pemancing itu lalu menuruni lereng curam yang penuh oleh pohon bambu, mencari tempat yang banyak ikannya. Mereka lalu sampai di sungai yang di pinggirnya terdapat tebing batu yang sangat besar. Para pemancing itu naik ke atas tebing dan duduk di sana.

Farly terkekeh-kekeh melihat mereka. Sepertinya menyenangkan…, pikirnya. Lalu ia mencoba menaiki tebing itu dengan kaki bengkoknya.

Hey! Hati-hati kemarin malam hujan deras, sekarang pasti tebing itu licin…, tubuh Farly mencoba memperingatkan otak. Apakah otak Farly memahami peringatan itu? Tidak!

“Fer, jangan naik! Di sini licin!” seru salah seorang pemancing. “Ya, benar. Kau pulang saja sana!” timpal yang lain. Tapi teriakan mereka hanya teriakan, tidak ada yang mendekati Farly untuk membantunya turun dan mengantarkannya pulang, mereka tetap asyik memasang dan melempar umpan.

Jangan injak bagian itu! Tubuh Farly ingin teriak. Namun untuk sekian kalinya ia kalah oleh otak. Ia gagal menahan kaki Farly agar tidak menginjak sisi licin tebing batu itu. Seperti ketika ia gagal menahan agar Farly tidak kencing di masjid, gagal menahan Farly agar tidak mengganggu anak-anak bermain sepak bola, gagal membuat Farly melindungi ibunya sendiri…. Tidak anyal lagi tubuh kerempengnya terhempas ke air yang sedang deras-derasnya sisa hujan kemarin malam.

“Byuuur!!!” suara itu mengagetkan para pemancing.

“Farly!” teriak mereka sambil memandang air yang mulai menenggelamkan tubuh kerempeng Farly.

Buih-buih bermunculan ke permukaan ketika Farly mencoba bernafas, tangannya menggapai-gapai air. Tubuh Farly merasakan kaku yang luar biasa dan takut yang serta merta menyergap. Takut menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan ia terima. Apa yang telah tangan ini lakukan? Apa yang telah kaki ini lakukan? Apa yang telah mulut ini ucapkan? Apa yang telah mata ini lihat? Apa yang telah telinga ini dengar?

Tapi mengapa otak ini begitu senang? Apa karena ada banyak air yang kini menyelimuti tubuhnya, tidak hanya genangan kencing di lantai masjid. Tidak, otak ini senang bukan karena air… ia senang karena akan bertemu Rabb-nya. Tubuh Farly merasa nyaman, kini ia tidak perlu lagi iri pada Amaar. Ia tahu bila ia bertemu lagi dengan Amaar nanti, keadaan mereka tidak lagi berbeda…

***

“Mba Yati, yang tabah ya…” bisik seorang Ibu-ibu gendut di telinga seorang wanita kurus yang membalasnya dengan senyuman. Semalaman orang-orang desa menyelam mencari Farly, bahkan mereka memanggil penyelam professional yang bekerja di waduk untuk membantu menemukannya. Namun hasilnya nol, akhirnya pencarian di hentikan ketika hujan deras turun tengah malam. Jenazah Farly ditemukan mengambang di pagi harinya.

Mendung menggulung sinar, cahaya pagi itu berpindah ke wajah seorang pemuda kerempeng yang berbaring berkafan putih. Senyum menghiasi bibirnya mengganti liur yang telah kering.

Berkilo-kilo meter dari rumah Farly, di sebuah ruang remang-remang yang penuh asap rokok. Seorang pria berbau alcohol mendapat durian runtuh, uang yang ia ambil paksa dari istrinya kini menjadi berlipat-lipat jumlahnya. Ia memasang taruhan dan menang, lalu menang, menang, dan menaaang lagi….

“Yatiii…!!! Dengan uang ini dan tabunganmu… kita bisa membawa Farly berobat!!!”

* Jay Chou: Dad I’m Back

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s